ALIRAN TAGMEMIK.



         Aliran Tagmemik

     Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L, Pike, seorang tokoh dari summer institute of linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis , tetapi juga antroplogis. Menurut aliran ini satuan dari sintaksis adalah tagmem (kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘susunan’).
       Yang dimaksud dengan tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat Peena itu brada di atas meja; bentuk pena itu mengisi fungsi subjek, dan tagmen subjeknya dinyatakan dengan pena iti. Menurut pike satuan dasar sintaksis tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja, seperti  subjek + predikat+objek; dan tidak dinyatakan dengan deretan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda +frase kerja +frasae benda , melsinksn hsrud diungkspksn bersama dalam rentetan rumus seperti:
(25) S:FN+P:FV+O:FN
Rumus tersebut dibaca : fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi prediklat yang diisi oleh fase verbal,dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal .
        Dalam perkembangan selanjutnya malah kedua unsur tagmen iyu, yaitu fungsi dan bentuk ( atau kategori pengisi fungsi ) perlu ditambah pula dengan unsur peran ( atau pengisi makna) , dan khoesi (keterikatan antara satuan-satuan lingual) yang membentuk jalinan yang erat. Dengan demikian satuan dasar sintaksis itu, yaitu tagmen , merupakan suatu sistem sel-empat-kisi,yang dapat digambarkan sebagai bagan berikut
Fungsi
Kategori
peran
kohhesi
 (26)

                                                                 
Dengan demikiann kalau kalimat “saya menulis surat dengan pinsil” dianalisis secara tagmemik , akan menjadi sebagai berikut:
S
KG
pel

 (27)   
K
FD
al

P
KKt
a

O
KB
tuj


                   saya                       menulis                       surat                   dengan pinsil
Keterangan :
                     S         = fungsi subjek
                     P         = fungsi prediklat
                     O        = fungsi objek
                     K        = fungsi keterangan
                     KG     = fungsi ganti
                     KKt    = fungsi kerja transitif
                     KB      = kata benda
                     FD      = frase depan
                     pel      = pelaku
                     ak       = aktif
                     tuj       = tujuan
                     al        = alat
         Dalam uraian kalimat ( 27) di atas, kohesi tidak diisi karena karena kohesi hanya relevan dengan bahsa-bahasa berkasus yang mempunyai ciri-ciri khas yang menandai hubungan timbal balik antartagmen dalam suatu konstruksi.
CIRI-CIRI ALIRANTAGMEMIK
                      Antara lain:
  1. Setiap Stuktur Terdiri atas Tagmen-tagmen
Tagmen adalah bagian dari suatu kontuksi gramatikal yang memiliki empat macam kelengkapan spesifikasi ciri yang meliputi:
a.)      Slot
Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam stuktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin).
b.)      Kelas (Class)
Kelas merupakan ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot tersebut berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana.
c.)      Peran (Role)
Peran adalah ciri atau benda penanda tagmen yang merupakan pembawa fungsi tagmen. Memang agak sulit membedakan fungsi dan peran. Pelaku (actor) dan penderita (undergoer) adalah peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian, ada subjek dengan peran penderita.

d.)      Kohesi
Kohesi adalah ciri atau penanda tagmen yang merupakan pengontrol hubungan antartagmen. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa ialah kaidah ketransitifan pada klausa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa intransitif, dan klausa ekuatif.
  1. Bersifat Eklektif
Teori tagmemik bersifat eklektif, yaitu merupakan perpaduan dari aneka macam teori yang dirangkum sesuai dengan proposisi masing-masing.
2.      Bersifat Universal
Teori tagmemik bersifat universal. Keuniversalan atau kesemestaan dalam teori ini bukan saja kesemestaan dalam arti berlaku untuk semua bahasa. Akan tetapi, juga kesemestaan dalam arti dapat berlaku untuk semua bidang kehidupan manusia.
3.      Tiga Hierarki Linguistik
Menurut teori ini ada tiga hierarki linguistik, yaitu: (a) hierarki referensial, (b) hirarki fonologikal, dan (c) hierarki gramatikal.
4.      Tataran pada Hierarki Gramatikal
Tataran terendah dalam hierarki gramatikal menurut teori ini adalah morfem, sedangkan tataran tertinggi adalah wacana.
a.       Slot pada Tataran Klausa
Slot pada tataran klausa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran kalimat tidak ada subjek dan tidak ada pula predikat. Objek dan adjung pun sudah barang tentu tidak ada juga. Kesemuanya itu hanyalah milik klausa, bukan milik kalimat. Slot pada tataran kalimat berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin) atau pokok dan sebutan, atau topic dan comment.
b.      Predikat Kata Kerja
Menurut teori tagmemik slot predikat harus kata kerja. Selain kata kerja tidak mungkin menduduki slot predikat.
c.       Ciri Etik dan Emik
Aliran ini mulai menegakkan eksistensi ciri  -etik dan –emik di dalam struktur. Ciri –etik adalah ciri yang tidak membedakan struktur, sedangkan ciri –emik adalah ciri yang membedakan struktur.
d.      Rumus di dalam Analisis
Di dalam analisis selau menggunakan rumus yang rapi, rangkap, dan tuntas. Apabila dipandang perlu dapat menggunakan diagram pohon. Akan tetapi, cara yang terakhir kurang disukai karena kurang praktis.
a.       Analisis Dimulai dari Klausa
Apabila aliran stuktural mengawali analisisnya dari kata, teori transformasional mengawali analisisnya dari kalimat, maka teori tagmemik mengawali analisisnya dari tataran klausa. Dengan demikian, tataran klausa kedudukannya sangat penting.
b.      Tidak ada batas antara Morfologi dan Sintaksis
Morfologi dan sintaksis melebur menjadi satu hierarki, yaitu hierarki gramatikal yang rentangan levelnya dari morfem sampai dengan wacana.

 TOKOH-TOKOH  DALAM ALIRAN  TAGMEMIK
A.      Kenneth Lee Pike
Secara relative teori Tagmemik kini memang boleh dikatakan masih cukup baru. Kebulatan dan kelengkapannya baru terwujud pada tahun 1977 dengan terbitnya buku “Grammatical Analysis” karangan Keneth L. Pike dan Evelyn G. Pike. Mereka sepasang suami istri dari University of Texas at Arlington dan sebagai direktur SIL (Summer Institusi of Linguisticts)
1)      Generasi Pertama
Generasi ini sebenarnya belum dapat disebut teori tagmemik yang sebenarnya.paling tepat disebut rintisan menuju tagmemik. Pada waktu itu kelengkapan spesifikasi ciri tagmemik baru ada dua, yakni slot dan filler class saja. Dengan demikian analisisnya masih agak sederhana. Sebagai missal , klausa”Kepalan Tyson telah mengenai rahang Spinks” dianalisis sebagai: S: NP+P:VP+O:NP.
Ahli bahasa yang terlibat pada generasi pertama ini antara lain: B. Elsen (1962), V. Pickett (1962), R.E. Longacre (1964), W.A. Cook (1969), (1970), (1971).
2)      Generasi kedua
Pada geberasi kedua ini teori tagmemik  baru mencapai kesempurnaannya. Untuk melahirkan buku”Grammatical Analysis” Pike suami istri memerlukan waktu sepuluh tahun. Salah satu tempat yang dipakai untuk uji coba adalah Indonesia, yakni di daerah Irian Jaya atau lebih tepatnya di danau Bira (1976). Ciri tagmen tidak lagi dua dimensi, melainkan empat dimensi, yakni slot, class, role, dan cohesion.
Sebenarnya Verhaar pernah mengemukakan konsepnya tentang analisis kalimat/klausa yang senada dengan teori tagmemik ini. Verhaar merupakan teori antara, dari tagmemik generasi pertama ke generasi tagmemik kedua. Demikian pula, Eduard Travis (1980) telah berhasil menganalisis makanan orang Sunda dengan menggunakan teori ini.




                             



Aliran Tagmemik
     Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L, Pike, seorang tokoh dari summer institute of linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis , tetapi juga antroplogis. Menurut aliran ini satuan dari sintaksis adalah tagmem (kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘susunan’).
       Yang dimaksud dengan tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat Peena itu brada di atas meja; bentuk pena itu mengisi fungsi subjek, dan tagmen subjeknya dinyatakan dengan pena iti. Menurut pike satuan dasar sintaksis tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja, seperti  subjek + predikat+objek; dan tidak dinyatakan dengan deretan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda +frase kerja +frasae benda , melsinksn hsrud diungkspksn bersama dalam rentetan rumus seperti:
(25) S:FN+P:FV+O:FN
Rumus tersebut dibaca : fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi prediklat yang diisi oleh fase verbal,dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal .
        Dalam perkembangan selanjutnya malah kedua unsur tagmen iyu, yaitu fungsi dan bentuk ( atau kategori pengisi fungsi ) perlu ditambah pula dengan unsur peran ( atau pengisi makna) , dan khoesi (keterikatan antara satuan-satuan lingual) yang membentuk jalinan yang erat. Dengan demikian satuan dasar sintaksis itu, yaitu tagmen , merupakan suatu sistem sel-empat-kisi,yang dapat digambarkan sebagai bagan berikut
Fungsi
Kategori
peran
kohhesi
 (26)

                                                                 
Dengan demikiann kalau kalimat “saya menulis surat dengan pinsil” dianalisis secara tagmemik , akan menjadi sebagai berikut:
S
KG
pel

 (27)   
K
FD
al

P
KKt
a

O
KB
tuj


                   saya                       menulis                       surat                   dengan pinsil
Keterangan :
                     S         = fungsi subjek
                     P         = fungsi prediklat
                     O        = fungsi objek
                     K        = fungsi keterangan
                     KG     = fungsi ganti
                     KKt    = fungsi kerja transitif
                     KB      = kata benda
                     FD      = frase depan
                     pel      = pelaku
                     ak       = aktif
                     tuj       = tujuan
                     al        = alat
         Dalam uraian kalimat ( 27) di atas, kohesi tidak diisi karena karena kohesi hanya relevan dengan bahsa-bahasa berkasus yang mempunyai ciri-ciri khas yang menandai hubungan timbal balik antartagmen dalam suatu konstruksi.
CIRI-CIRI ALIRANTAGMEMIK
                      Antara lain:
  1. Setiap Stuktur Terdiri atas Tagmen-tagmen
Tagmen adalah bagian dari suatu kontuksi gramatikal yang memiliki empat macam kelengkapan spesifikasi ciri yang meliputi:
a.)      Slot
Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam stuktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin).
b.)      Kelas (Class)
Kelas merupakan ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot tersebut berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana.
c.)      Peran (Role)
Peran adalah ciri atau benda penanda tagmen yang merupakan pembawa fungsi tagmen. Memang agak sulit membedakan fungsi dan peran. Pelaku (actor) dan penderita (undergoer) adalah peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian, ada subjek dengan peran penderita.

d.)      Kohesi
Kohesi adalah ciri atau penanda tagmen yang merupakan pengontrol hubungan antartagmen. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa ialah kaidah ketransitifan pada klausa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa intransitif, dan klausa ekuatif.
  1. Bersifat Eklektif
Teori tagmemik bersifat eklektif, yaitu merupakan perpaduan dari aneka macam teori yang dirangkum sesuai dengan proposisi masing-masing.
2.      Bersifat Universal
Teori tagmemik bersifat universal. Keuniversalan atau kesemestaan dalam teori ini bukan saja kesemestaan dalam arti berlaku untuk semua bahasa. Akan tetapi, juga kesemestaan dalam arti dapat berlaku untuk semua bidang kehidupan manusia.
3.      Tiga Hierarki Linguistik
Menurut teori ini ada tiga hierarki linguistik, yaitu: (a) hierarki referensial, (b) hirarki fonologikal, dan (c) hierarki gramatikal.
4.      Tataran pada Hierarki Gramatikal
Tataran terendah dalam hierarki gramatikal menurut teori ini adalah morfem, sedangkan tataran tertinggi adalah wacana.
a.       Slot pada Tataran Klausa
Slot pada tataran klausa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran kalimat tidak ada subjek dan tidak ada pula predikat. Objek dan adjung pun sudah barang tentu tidak ada juga. Kesemuanya itu hanyalah milik klausa, bukan milik kalimat. Slot pada tataran kalimat berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin) atau pokok dan sebutan, atau topic dan comment.
b.      Predikat Kata Kerja
Menurut teori tagmemik slot predikat harus kata kerja. Selain kata kerja tidak mungkin menduduki slot predikat.
c.       Ciri Etik dan Emik
Aliran ini mulai menegakkan eksistensi ciri  -etik dan –emik di dalam struktur. Ciri –etik adalah ciri yang tidak membedakan struktur, sedangkan ciri –emik adalah ciri yang membedakan struktur.
d.      Rumus di dalam Analisis
Di dalam analisis selau menggunakan rumus yang rapi, rangkap, dan tuntas. Apabila dipandang perlu dapat menggunakan diagram pohon. Akan tetapi, cara yang terakhir kurang disukai karena kurang praktis.
a.       Analisis Dimulai dari Klausa
Apabila aliran stuktural mengawali analisisnya dari kata, teori transformasional mengawali analisisnya dari kalimat, maka teori tagmemik mengawali analisisnya dari tataran klausa. Dengan demikian, tataran klausa kedudukannya sangat penting.
b.      Tidak ada batas antara Morfologi dan Sintaksis
Morfologi dan sintaksis melebur menjadi satu hierarki, yaitu hierarki gramatikal yang rentangan levelnya dari morfem sampai dengan wacana.

 TOKOH-TOKOH  DALAM ALIRAN  TAGMEMIK
A.      Kenneth Lee Pike
Secara relative teori Tagmemik kini memang boleh dikatakan masih cukup baru. Kebulatan dan kelengkapannya baru terwujud pada tahun 1977 dengan terbitnya buku “Grammatical Analysis” karangan Keneth L. Pike dan Evelyn G. Pike. Mereka sepasang suami istri dari University of Texas at Arlington dan sebagai direktur SIL (Summer Institusi of Linguisticts)
1)      Generasi Pertama
Generasi ini sebenarnya belum dapat disebut teori tagmemik yang sebenarnya.paling tepat disebut rintisan menuju tagmemik. Pada waktu itu kelengkapan spesifikasi ciri tagmemik baru ada dua, yakni slot dan filler class saja. Dengan demikian analisisnya masih agak sederhana. Sebagai missal , klausa”Kepalan Tyson telah mengenai rahang Spinks” dianalisis sebagai: S: NP+P:VP+O:NP.
Ahli bahasa yang terlibat pada generasi pertama ini antara lain: B. Elsen (1962), V. Pickett (1962), R.E. Longacre (1964), W.A. Cook (1969), (1970), (1971).
2)      Generasi kedua
Pada geberasi kedua ini teori tagmemik  baru mencapai kesempurnaannya. Untuk melahirkan buku”Grammatical Analysis” Pike suami istri memerlukan waktu sepuluh tahun. Salah satu tempat yang dipakai untuk uji coba adalah Indonesia, yakni di daerah Irian Jaya atau lebih tepatnya di danau Bira (1976). Ciri tagmen tidak lagi dua dimensi, melainkan empat dimensi, yakni slot, class, role, dan cohesion.
Sebenarnya Verhaar pernah mengemukakan konsepnya tentang analisis kalimat/klausa yang senada dengan teori tagmemik ini. Verhaar merupakan teori antara, dari tagmemik generasi pertama ke generasi tagmemik kedua. Demikian pula, Eduard Travis (1980) telah berhasil menganalisis makanan orang Sunda dengan menggunakan teori ini.




                             

Komentar

Postingan populer dari blog ini